Categories
Bogor Agricultural University

IPB Badge
IPB Badge

(Kamus bekas + Buku  bekas) x Ketekunan = Pengusaha

Mungkin suatu yang sangat luar biasa bagiku,walaupun aku tidak bersekolah seperti teman-temanku lainnya. Aku dapat mengembangkan ilmu yang ku dapat dari luar pendidikan formal. Seperti pada saat ini aku sedang melaksanakan proyek mendeteksi kesuburan tanah dengan teknologi komputer.

Proyek dengan nilai yang sangat besar ini mengangkat namaku di salah satu perusahaan perusahaan pertanian Australia. Perusahaan yang bergerak dibidang pemasaran hasil pertanian itu telah mempercayai perusahaanku untuk  menghasilkan produk-produk yang sangat berkualitas. Semua berawal dari sini:

Teman-temanku sering memenggilku dengan sebutan “Mamad” takdir melukiskan garis hiidupku dengan aku di lahirkan dan di besarkan di “Kota hujan” ini yakni kota yang penuh dengan keindahan yang memukau,kesejukan dan keramahan alam yang menyenangkan hati.

Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana,ayah hanya seorang buruh tani dan ibu hanya berprofesi sebagai seorang ibu rumah tangga. Aku tidak dapat mengandalkan penghasilan ayahku saja untuk aku dapat bertahan hidup. Aku juga harus mencari tambahan untuk diriku sendiri,syukur-syukur kalau lebih aku mencoba memberi orang tua untuk mengurangi beban mereka menghidupi kami yang lima bersaudara ini.

Mungkin aku sedikit iri melihat teman-teman yang sebaya denganku dapat menikmati masa-masa yang yang sebenarnya aku lewati dengan penuh keindahan ini. Mereka dapat bersekolah tanpa memikirkan biayanya. Mereka yang dapat setiap malam minggu jalan bersama sang kekasih. Tetapi itu tidak bagiku.

Apalah dayaku untuk melawan semua cobaan hidup ini. Aku tak mempunyai kekuatan lebih untuk melawan semua itu. Kadang pikiranku hilang kendali, aku berpikiran seandainya kau diberi kekuatan indra ke enam atau aku diberi sesosok jin yang bisa aku pergunakan untuk mengabulkan seluruh permintaanku. Tapi itu sangatlah mustahil, itu hahyalah imajinasi dan dunia khayal yang takkan pernah terjadi.

Kalau di hitung-hitung,sebenarnya sekarang aku harus menginjakkan kakiku di bangku perkuliahan. Layaknya sebagai manusia biasa aku juga mempunyai cita-cita dan mimpi yang indah. Aku bermimpi jika aku besar nanti aku akan kuliah di IPB dan lulus meraih gelar insinyur pertanian.

Alasanku ingin menjadi insinyur pertanian yaitu karena aku tidak mau aku hidup seperti ayahku sebagai seorang buruh tani yang di upah secara musiman,tetapi harapan itu telah pudar. Mimpi tinggallah mimpi, aku hanya dapat mengubur semuanya agar aku tidak dapat melihatnya lagi. Seandainya aku melihatnya pastilah hatiku akan menjadi sedih dan putus asa. Sedangkan putus asa itu adalah pantangan dalam kamus hidupku. Aku juga pernah mencicipi pendidikan walaupun hanya sampai Sekolah Dasar itupun ijazahku belum aku ambil sampai sekarang, karena aku terbentur dalam masalah biaya. Salah satu yang dapat aku pertahankan sampai saat sekarang ini adalah aku selalu membaca apa saja. Biasanya koran-koran bekas dan buku-buku bekas menjadi santapanku. Mungkin dalam hal pelajaran aku ketinggalan jauh di bandingkan teman-teman seumuranku yang masih sekolah, tetapi kalau seandainya dalam hal wawasan aku mungkin takkan kalah saing di bandingkan dengan mereka.

Sebagai seorang anak jalanan mungkin orang-orang tak menganggap kehadiranku. Orang lebih menghargai teman-temanku yang bertitel sebagai seorang mahasiswa di bandingkan aku yang hanya lulusan SD dan tak berguna ini. Tapi aku juga tidak pernah berharap orang-orang akan peduli terhadapku, aku hanya berharap orang-orang menghargai harga diri dan maratabatku sebagai seorang manusia sebagaimana mestinya.

Memang dari kecil aku senang membaca, kegemaranku membaca ketika aku memulai profesiku sebagai loper koran. Aku selalu menjajakan koran ke mobil-mobil yang berhenti di lampu merah. Ketika waktu istirahat datang, disanalah aku menyempatkan diri membaca koran-koran bekas yang tidak laku lagi. Aku paling senang membaca buku atau berita tentang teknologi sedangkan yang paling aku benci yaitu yang berhubungan dengan politik.

Aku sangat benci dengan politik karena semua itu hanya sandiwara di depan layar dan hanya untuk membodohi publik. Aku sangat hafal dengan seluk-beluk dan kebusukan dalam politik. Aku berusaha menjauhkan diriku dari politik yang penuh dengan kemunafikan.

Sebagai anak jalanan aku mempunyai komunitas tersendiri. Di dalamnya berisi anak-anak yang putus sekolah, yang di buang oleh orang tua mereka dan anak-anak yang bernasib kurang beruntung seperti diriku ini. Tapi komunitas ini sering dimanfaatkan oleh beberapa parpol untuk demonstrasi ataupun kampanye.

Suatu hari sebuah partai politik meminta kepada semua anak jalanan untuk mendukung mereka dalam orasi menuntut janji pemerintah. Aku menolak dengan tegas bahwa aku takkan ikut acara tersebut, bayangkan dalam komunitas anak jalanan Se-Kota Bogor hanya aku yang tidak ikut acara demo ke depan gedung DPR tersebut.

Aku beralasan bahwa walaupun aku bukan seorang yang terpelajar,aku tidak gampang untuk dihasut untuk acara yang menurutku tidak penting itu. Walaupun nantinya yang ikut demo itu dibayar, aku tak pernah tertarik melakukan semua itu. Mereka mungkin berdalih bahwa orang-orang atas itu beginilah,begitulah atau korupsilah. Seandainya mereka berada pada posisi tersebut,apakah mereka dapat menahan nafsu mereka untuk tidak melekukakan penyelewengan?

Aku tidak yakin mereka akan mampu melakukan itu. Semua  mereka itu munafik. Mengajak kami yang dari kalangan bawah ini untuk demo merupakan siasat mereka untuk membodohi publik. Karena itu akulah satu-satunya anak jalan yang selalu di membangkang ketika diajak demonstrasi.

Sebagai loper koran dan buku di jalanan aku sering membaca buku tentang komputer dan ilmu pertanian. Kenapa aku senang membaca kedua buku tersebut? aku punya alasan untuk menjawabnya.

Isi dari buku-buku mengenai ilmu petanian langsung aku terapkan dalam kehidupanku sehari-hari. Begitu juga dengan ilmu komputer yang dapat ku terapkan di warnet milik temanku.

Satu lagi bacaan yang sangat aku gemari yaitu Bahasa Inggris ,suatu pengalaman yang tidak bisa ku lupakan ketika aku harus mengumpulkan duit untuk membeli kamus bahasa inggris bekas.

Semua yang terjadi pada diriku seolah menjadi semangat bagiku untuk menjadi yang lebih baik,seperti yang satu ini.

Awalnya aku tidak begitu menyukai bahasa yang menjadi bahasa internasional ini. Suatu hari teman-teman iseng-iseng mengajakku nonton bareng di rumahnya. Film itu adalah film barat yang terlaris waktu itu. Aku tidak dapat menangkap apa yang di maksud oleh film itu karena aku buta dengan bahasa inggris.

Seolah keadaan mendukung semangatku agar bisa berbahasa Inggris, beberapa saat setelah itu aku di jalan melihat seorang bule yang bertanya kepada mahasiswa. Tidak salah bule itu menanyakan alamat, dengan lancarnya mahasiswa itu menjawabnya dengan bahasa yang jarang ku dengar itu. Aku kaget ketika bule itu memberikan uang lima dolar kepada sang mahasiwa itu. Padahal ia hanya ditanya tentang alamat yang akan dituju oleh si bule tersebut.

Sebenarnya kalau di hitung-hitung uang lima dolar itu dapat membeli 6 liter beras. Sejak itulah aku bertekad untuk mencoba belajar bahasa inggris walaupun aku tidak bisa membayar seorang guru privat, tapi aku hanya butuh uang 20 ribu rupiah untuk membeli kamus bahasa Inggris bekas.

Sebulan sudah setelah kejadian itu,akhirnya uang ku terkumpul juga. Hari itu hari jumat, sepertinya setelah ngamen di jalanan aku melaksanakan shalat jumat dan setelah jumatan selesai aku langsung dengan segera menuju Pasar Loak terdekat. Awalnya kamus itu di tawari dengan harga 50 ribu rupiah, akhirnya aku dapat menawar sampai 20 ribu rupiah.

Perasaanku waktu itu sangat senang sekali, tanpa berpikir apa-apa lagi aku langsung membuka halaman pertama dari kamus tersebut, aku mencoba membaca,dengan terbatah-batah aku mencoba membaca dan mempelajarinya.

Setelah aku membaca daftar isinya aku bingung mau mempelajari yang mana. Sedangkan sebelumnya aku belum mengenal bahasa ini. Setelah itu aku putuskan untuk mempelajari hal-hal yang menyangkut tentang kehidupan pribadi dulu. Semua kosakata yang menyangkut di sekitar lingkunganku aku artikan ke dalam bahasa Inggris, begitu juga dengan kata-kata yang ku temui di lingkunganku dan di jalan raya,seperti kata welcome yang artinya ternyata “selamat datang”.

Dalam sehari aku bertekad untuk menghafal sekurang-kurangnya 10 kosa kata bahasa Inggris, setelah itu aku mencoba menanya-nanya tentang berbicara dalam bahasa inggris kepada salah seorang mahasiswa yang kost di dekat rumahku. Namanya Richard, tapi aku sering memanggil ia dengan sebutan “uda Padang” karena ia berasal dari kota yang terkenal dengan masakannya yang membuat kita tergila-gila itu.

Setiap malam selasa dan malam jumat aku selalu bertandang ke kost-annya untuk minta diajari bericara dengan bahasa Inggris. Kebetulan jadwal kuliahnya di hari rabu dan jum’at tidak terlalu padat. Sesekali aku membawakan ia gorengan atas terima kasih ku kepadanya yang telah mengajariku bicara dalam bahasa Inggris, walaupun aku hidup pas-pasan, ibu dan ayah ku selalu mengajariku untuk menghargai jasa orang lain terhadap kita.

Mungkin dengan membawa gorengan itulah yang bisa ku berikan hari ini untuk dia. Tapi aku bertekat suatu saat nanti aku dapat membalas jasa-jasa uda Padang yang dengan senang hati mengajariku.

Sekitar tujuh bulan setelah itu, aku mencoba mengamen di sebuah angkutan kota, aku menyanyikan sebuah lagu yang berbahasa inggris kalau tdak salah aku menyanyikan lagu “I believe I can Fly”. Setelah selesai mengamen aku mencoba duduk sejenak,aku duduk di salah satu bangku yang kosong. Tiba-tiba bapak yang duduk di sebelah ku itu bertanya kepadaku ”kuliah dimana dek?”, dengan ekspersi wajah yang tak wajar aku menjawab”Kuliah?, jangankan kuliah pak,mencoba duduk di bangku SMP saja aku belum pernah”. “Kok kamu bisa fasih menyanyikan lagu berbahasa Inggris”.

Akhirnya aku menjelaskan kisah hidupku kepada bapak yang baru ku kenal itu. Tak kusangka bapak itu sangat tertarik denganku, ia menganggapku seseorang yang gigih dan pekerja keras. Ia ternyata salah seorang pengusaha pertanian yang memiliki daerah pemasaran sampai ke negara-negara yang ada di Australia, Amerika dan Eropa. Yang kebetulan mobilnya rusak di tengah jalan.

Bapak itu mengajak aku untuk bergabung di perusahaannya tetapi sebagai juru bicaranya. Dengan perasaan yang tak percaya aku mencoba menjawab ajakan bapak tersebut. Setelah itu aku langsung di ajaknya ke rumahnya, di rumahnya aku diberi pengarahan tentang pekerjaannya. Dalam waktu tiga bulan ke belakang aku diberi bimbingan belajar khusus bahasa inggris dan komputer. Tapi aku di beri uang saku selama aku menjalani bimbingan belajar itu.

Tiga bulan telah berlalu, aku memulai pekerjaanku sebagai juru bicara Bapak Santoso, pengusaha terpandang dan disegani di Kota ku. Selama sebulan aku sering di bawanya jalan-jalan ke luar negeri,seperti ke Singapura, Washington DC, London, Berlin, Paris. Aku juga di beri gaji yang sangat mencengankan.

Sisa gaji ku itu dapat ku pergunakan untuk membangun rumah untuk kedua orang tuaku. Walaupun baru hanya sekirtar 4 kamar tidur. Setahun aku bekerja aku dapat naik haji bersama kedua orang tuaku. Alhamdulillah semua adik-adikku telah bisa menikmati sekolah seperti orang-orang lainnya.

Waktu aku di ajak ke Villa si bapak yang ada di Puncak, aku di perkenalkan nya dengan komoditi ekspornya. Aku dia ajarkannya tentang cara berbisnis yang baik, ia menyukai kepribadianku yang selalu ingin maju dan pekerja keras,dan ia juga menganggap aku ini seseorang yang tekun. Ia ingin aku menjadi salah satu kepala cabangnya.

Akhirnya ia memodaliku untuk membuka cabang perusahaan nya di Kota Malang, Jawa Timur. Setahun sudah aku menjadi kepala cabangnya, dan ternyata usaha di Malang sangat maju dalam waktu yang singkat,dalam waktu yang singkat cabang perusahaan yang ada di Malang mencapai keuntungan yang sangat fantastis. Di sana aku di anugerahi sebuah BMW oleh si bapak.

Tak lama setelah itu aku merekomendasikan Richard (si Uda Padang) yang baru saja wisuda Sarjana Pertanian IPB itu untuk menjadi salah satu tenaga ahli di perusahaan itu. Dalam tujuh bulan, cabang tempat Uda padang menjadi staf ahli berkembang pesat, malahan pemasarannya sangat bagus. Akhirnya Alumni Agribisnis IPB ini di angkat menjadi kepala cabang di kota kelahirannya di Padang,Sumatera Barat.

Berenang sambil minum air, mungkin pepatah ini cocok sekali untuk ku. Setelah beberapa tahun bekerja aku yang sebelumnya sempat berpacaran dengan Putri sulung Bapak santoso itu akhirnya mendapat restu dari Sang Bapak untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Mungkin aku yang dulunya pengemis dan anak jalanan tak pernah membayangkan aku akan bersanding dengan gadis yang begitu cantik dan memikat di Gedung yang Super Mewah itu.

Di hari pernikahan itu Bapak Santoso langsung mengankatku sebagai Direktur Utama di perusahaan itu, sedangkan ia hanya sebagi pemegang saham terbesar di perusahaan itu.

Jejak langkah ku juga di ikuti oleh Richard,ia juga mampu menaklukan hati puteri kedua Bapak Santoso,ia juga sekarang di nobatkan sebagai salah satu dewan direksi di perusahaan itu.

Hello mahasiswa Diploma IPB……..